![]() |
| Dok: Gafur Abdullah |
Jam di smartphone menunjukkan pukul 13:25 wib. Pohon kelapa, mahoni, dan jenis tumbuhan lainnya bejejer di pinggir sepanjang jalan menuju rumah Moh. Ihsan Zain, mantan human resource department (HRD) atau departemen sumber daya manusia (SDM) dan auditor serta supervisor di bidang peternakan. Dialah pemuda yang memutuskan resign dari pekerjaannya yang menjanjikan dan memilih mengelola sampah dengan menciptakan Bank Sampah Hamdalah di kampung halamannya, di Dusun Bujudan, Desa Pamoroh, Kec. Kadur, Kab. Pamekasan.
Pria berkacamata berdiri di depan pintu rumah bercat putih. Memakai kaos oblong, memakai sarung tapi tanpa peci. Ihsan membuka senyum dan menyapa dengan menyilakan kami masuk.
"Saya khawatir melihat sampah yang ada di daerah ini. Banyak yang dibuang ke ladang. Tahu sendiri, kan, sampah khususnya plastik dan sampah lain yang membutuhkan waktu lama untuk terurai tanah memprihatinkan. Apalagi sampah bisa bernilai ekonomis jika dikelola dengan baik. Dan saya rasa orang Madura tidak asing dengan rongsokan. " tuturnya awal diwawancarai, Jum'at (17/7/2020) saat ditemui di rumahnya.
Ihsan bercerita dua tahun dia menjalankan profesi sebagai HRD, auditor dan supervisor bidang peternakan. Merasa bosan dengan profesi itu, sebab kurang bermanfaat bagi kampung halamannya, dia pun memilih resign dan pulang kampung.
Duduk santai di ruang tamu, Ihsan, begitu disapa, menjelaskan, konsep ide pembentukan bank sampah itu dia bicarakan dengan empat teman dekatnya pada petengahan Desember 2019 lalu.
Ihsan menceritakan, sosialisasi ide yang bernapaskan kepedulian pada lingkungan tersebut dilakukan pada Januari 2020. Konsep sosialisasinya tidak langsung menyampaikan ide bank sampahnya. Tapi didesain dengan cara penyuntikan ternak milik warga sekitar berbekal ilmu tentang peternakan sesuai bidang studi yang ditempuh di Universitas Muhammadiyah Malang beberapa tahun lalu.
"Disela-sela sosialisasi penyuntikan itu, saya pelan-pelan memasukkan ide bank sampah itu. Alhamdulillah, direspon baik. Sekitar 30 orang perwakilan setiap KK, " kata mantan HRD di PT Chiel Jedang Feed & Livestock tersebut.
Sembari membetulkan kacamatanya, ihsan menjelaskan, dia bersama anggota bank sampah lainnya menjemput sampah dari rumah satu ke rumah lainnya. Penjemputan dilakukan satu minggu sekali menggunakan motor pribadi milik anggota .
"Sebenarnya sudah komunikasi soal kendaraan dengan DLH Pamekasan. Tapi belum dapat. Bahkan di lokasi ini ditawarkan jadi TPS 3 R. Sempat juga presentasi di depan Wabub. Alhamdulillah, Direspon baik," bebernya.
Meski sudah mendapat tawaran dijadikan TPS 3 R, namun Ihsan merasa kesulitan lahan. Sudah ada upaya minta ke desa, masih diberikan separuh. DLH Pamekasan sudah melakukan peninjauan sebelum ada wabah Corona, Februari 2020 lalu. Tapi tidak sesuai standardisasi.
"Dari pihak desa dikasih ukuran 7x10, lokasiinya masuk dusun Bujudan. sedangkan standardisasi menurut DLH 10x 20. Awalnya hanya bilang bagus. Tapi beliau belum paham bank sampah. Struktural lengkap. Disetujui desa dan DLH. Tapi sekarang tanah yang dikasih desa masih dikelola salah satu warga. Kasihan, masih ditanami tembakau," jelas Pria kelahiran 1 Agustus 1994 tersebut.
Untuk saat ini, bangunan bank sampah hamdalah didesain serupa garasi. Terbuat dari kayu, bambu, seng, hasbis. Bank sampah itu bisa memuat dua ton sampah.
Sampah dipisahkan organik dan an organik. Baik sampah yang produktif dan tidak. Sampah organik dibuat konsep dijadikan pakan ternak, Magot. Tapi belum terealisasi. Untuk plastik dijadikan paving blok. Metode itu dia dan anggotanya belajar dari YouTube. Tapi karena ternyata kurang alat dan polusi begitu banyak, jadi hanya sebatas percobaan.
Sampah berupa kardus, kertas, botol air mineral, seng dan besi dikumpulkan sampai mencapai 1 ton. Lalu dibawa ke pengepul di daerah Sumedangan, Pamekasan untuk dijual. Sedangkan minyak jelatah atau sisa penggorengan dibuat diolah jadi bahan bakar dan sudah komunikasikan dengan salah satu temannya di Sidoarjo untuk diekspor ke Belanda. Minyak jelantah itu didapatkan dari hasil kerjasama dengan sejumlah kafe dan hotel di Pamekasan
"Pernah dari pagi sampe malam saya dan anggota melakukan pemilahan.Tapi sekarang dipilah sendiri oleh nasabah. Alhamdulillah, uang hasil penjualan diatas UMR Pamekasan,"
Ada tiga kategori tabungan sampah di bank sampah milik Ihsan. Reguler, Sembako dan Pendidikan. Tabungan reguler ini bisa diambil setiap bulan. Nominal 50 sampai 100 ribu. "Kadang tidak diambil sebulan, tapi ditabung sama nasabah. Ide ini juga guna membatu tetangga dari segi ekonomi, meski tidak seberapa," jelasnya sambil menunjukkan buku tabungan bank sampah hamdalah dengan warna hijau dan putih.
Sistem tabungan untuk kategori sembako, hasil penjualan sampah dibelikan sembako. Beras, minyak goreng dan lainnya. Sedangkan yang ketiga, tabungan Pendidikan. Hasil penjualan sampah pada kategori ini bisa diambil 6 bulan sekali dengan mengikuti semester sekolah berjalan. Bisa dibelikan alat-alat sekolah. Tapi Bisa juga diuangkan.
Meskipun mengelola bank sampah, ilmu peternakannya tetap dijalankan. Dia tetap melakukan penyuntikan ternak warga sekitar. Tapi tidak membuka layaknya seperti kantor, melainkan sekadar memenuhi panggilan tetangganya yang membutuhkan tanaganya saja. Tarifnya pun tidak sebagaimana biasanya. Dia lakukan dengan misi membantu tetangga saja.
"Tarifnya, ya, pengabdian. Ganti suntik sama obat saja. Ini tidak bermaksud mau merusak tarif pasar. Hanya bantu saja, " jelasnya.
Saat ini, dia juga sedang menjalin kerjasama dengan salah satu pengusaha ternak sapi. Dia berperan sebagai konsultan bagi orang tersebut untuk sejumlah sapi yang diternak.
"Bank sampah tidak hanya di sini. saya harap dareah lain juga ada. Bahkan saya terbuka untuk kerjasama. Diakui atau tidak, Sampah di kota juga di desa jadi masalah bersama," harap Ihsan.
Ihsan menjelaskan, sudah ada satu cabang bank sampah di Pragaan. Di Desa Terak masih dalam rencana. Ke depan ada rencana mau kerjasama dengan sekolah untuk pengumpulan sampahnya.
Dia berharap masyarakat juga sadar, bahwa sampah berbahaya jika dibiarkan dan bisa sadar bahwa sampah jadi bernilai ekonomis. Menurutnya, Jargon ajakan buang sampah pada tempatnya sepertinya kurang mempan.
"Kayak putung rokok. Biasanya asal buang. Jadi perlu gerakan nyata penyadaran. Pemerintah kadang kan hanya mau rangkul saat sukses. Saat masih di bawah diabaikan," pungkasnya.
Rukmi, salah satu nasabah mengaku senang dengan adanya bank sampah hamdalah hasil gagasan Ihsan ini. Karena yang ditabung sampah, tapi mendapatkan uang.
"Konsep bagus, lebih mahal daripada dijual biasa. Secara uang, mungkin belum. Karena masih ditabung. Nanti mau diambil setelah dibutuhkan," akunya, Senin (20/7/2020) via Whatsapp.



0 Komentar