Di rumah yang sederhana
itu aku tinggal bersama istriku sejak 2 tahun aku menikhahinya, aku menikahinya
karena kesolihaannya. Ia memberikan buah hati yang secara kasat mata terlihat
cacat, matanya tidak bisa melihat sama sekali, lebih tepatnya buta. Istriku
merawatnya dengan penuh kasih sayang, sedangkan aku merasa kecewa karena
mempunyai keturunan yang cacat. Nama anak itu diberikan oleh istriku sendiri, Mila
Anggraini. Ya, nama anak pertamaku bernama Mila Anggraini. Sengaja aku tidak
ikut campur dalam penamaannya dari saking kecewanya aku terhadap anak yang
terlahir dalam keadaan buta itu.
Sejak hadirnya makhluk baru dalam keluargaku, jarang sekali aku ada
dirumah karena aku tidak mau direpotkan untuk melayani segala kebutuhannya.
kian hari anak itu tumbuh dewasa, aku semakin resah dan gelisah melihat anak
itu karena tiap mau pergi harus di barengi oleh ibunya. Bahkan ke kamar mandi
sekalipun harus di antarkan.
Pernah Dini hari istriku bangun
untuk solat malam, waktu itu tidak bisa tidur walaupun mata sudah aku pejamkan.
saat itu pula aku mendengar suara yang merupakan keluh kesah istriku dalam
do;a. . “Ya Allah.... aku tahu suamiku
tidak bisa menerima kehadiran mila anakku yang terlahir dalam kedaan buta itu.
Tapi biar bagaimanapun mila adalah anugrah sekaligus amanah darimu. Ya robby
aku mohon berilah kesadaran kepada suami hamba, agar bisa menerima mila dengan
lapan dada.” Untaian sebaris do’a istriku membuat mata ini mengeluarkan air
penyesalan, karena sangat merasa bersalah.
Sejak kejadian itu aku berusaha
untuk menerima anakku yang buta dengan lapang dada. aku yang sejak lahirnya
tidak pernah menggendongnya, tapi pagi itu aku memanggil mila dan memeluknya
dengan erat. Sungguh air mata tidak bisa aku bendung, saat melihat anakku yang
tidak pernah aku sentuh itu berkata.”kamu
siapa? Mama.. mama... ada yang ingin mencelakakan mila ma....., lepaskan!!!
Lepaskan!!.” Teriaknya keras dan memukul bahuku dengan sekencang kencangnya
karena ketakutan. Pelukankutidak aku lepaskan, namun aku
semakin merasa bersalah waktu itu, tapi aku sadar Mila tidak mengenalku karena
hanya saat itu aku memeluknya bahkan menyentuhnya.
Kutatap mata istriku yang dari tadinya sudah berada di pintu
mengalirkan air matanya, ia mengalirkan air mata kebahagiaan karena saat itu ia
melihat aku sudah memeluk anakku yang buta. “Aku ini ayahmu nak.” Tuturku
sembari melepaskan pelukanku. “Ayah.....
kemana saja selama ini?.mendengar pertanyaan itu, mulutku kaku tak bisa
mengeluarka rangkain huruf yag menjadi satu kata apalagi menjadi sebuah
kalimat.
Saat mentari sudah
bersembunyi dibalik ufuk barat, aku solat maghrib berjemaah dengan istriku dan
juga anakku. Dzikir demi dzikir dilakukan secara bersama dan membuat suasana
semakin tentram, Mila yang dalam keadaan butabisa melantunkan dzikir seperti
apa yang di anjurkan oleh Rosullah Muhammad Sollahualaihi Wasallam, entahlah
siapa yang mengajarkan aku tidak tahu, aku sendiri tidak penah mengajarinya.
Melihat Mila bisa menegeluarkan kalimat
tasbih,tahmid bahkan takbir. Aku semakin bangga kepada Mila kalaupun sebelumnya
aku sangat benci karena kebutaannya.
Setelah itu Mila melipat sajadahnya
yang bergambar masjid yang pertama kali dibangun oleh Rosullah di Madinah dan
langsung minta diantar kekamarnya. Selepas mengantarkan buah hatinya, istriku
kembali ketempatnya semula dan berdizkir bersamaku. Ditengah-tengah kami khsuk
berdzikir, terdengarlah suara yang tak asing lagi di pendengaranku dan istriku,
suara itu melafalkan firman Allah.”Ma....
itu suara mila kan ma?” bicaraku kepada istriku heran .”Benar yah itu memang suara mila.”jawab istriku tegas. Aku
perhatikan suara itu melafalkan suarat Yasin yang diteruskan dengan surat Waqiah.
“Memangnya ia bisa baca Al-Quran ma?”
tanyaku semakin penasaran. “Mila memang bisa
membaca Al-Quran yah sekalipun ia buta. Hanya saja mama tidak menceritakan
semua itu kepada ayah, agar ayah bisa tahu dengan sendirinya. Bahkan mila tidak
hanya bisa membaca yah, tapi ia hafal Al-Quran yang berjumlah 30 juz.”Tutur
istriku bangga. “astaghfirllah.....ternyata
anakku yang selama ini aku remehkan,
merupakan lentera bagi kehidupan dunia akhiratku.” lirihku dalam gumam menyesal.
Sejak kejadian itu aku semakin betah
dirumah, istriku yang sebelumnya melayani kebutuhanya kini aku menggantikannya. Hari-hariku yang
sebelumnya dihabiskan di luar rumah, kini aku rubah yakni aku habiskan saja
bersama keluargaku yang disitu ada Mila. Keluargaku benar-benar dihiasi dengan
lingkaran SAMAWA dan tidak aku rasakan sejak peristiwa itu kecuali kebahagiaan.
Mila yang sebelumnya merupakan
anggota keluarga yang aku benci, kini menjadi orang yang kusayang setelah
istriku. Tiap selesai maghrib aku meminta Mila untuk mengaji tanpa memegang
mushaf satu lembarpun, sehingga mataku meneteskan air mata kedamaian
didepannya, namun ia tidak melihat tetesan itu.
Pmk, 10 February
2015
0 Komentar