Usai
solat Dzhur, ayah menitahku pergi ke ATM yang tidak jauh dari rumah untuk mentrasfer
uang. Aku pun mematuhi perintah ayah dengan menanyakan berapa uang yang akan
ditransfer dan kepada siapa hendak kirimkan.
“Dua puluh juta, nanti pin dan nomor
rekening kakakmu ayah beritahu lewat sms.” Kata ayah sembari mengambil kartu ATM
di dopet dan memberikannya padaku. Tanpa sepatah katapun, aku pergi dengan penuh
patuh akan perintah ayah.
Sampai aku keluar dari SMA, aku tidak tahu apa sebenarnya
pekerjaan. Tapi setiap hari kebutuhan rumah tangga selalu terpenuhi, termasuk biaya
sekolahku dan kakakku yang waktu itu sudah semester 5 di kampus ternama di kota
dingin (red: julukan kota Malang). Aku tidak pernah menanyakan kepada
ayah. Pikirku, terlalu lancang bila
mengurus urusan orang tua. Setiap hendak menanyakan apa sebenarnya pekerjaannya
ayah, aku berpikir 100 kali. “ yang penting kebutuhanku terpenuhi,”
kata-kata itulah yang sering muncul dalam benakku setiap ada keinginan untuk
bertanya akan pekerjaan ayah yang sebenarnya. Entahlah apa pekerjaan ayah, tapi
ketika malam hari ia tidak ada di rumah.
Tiba di tempat yang aku tuju, sms
dari ayah pun mengahampiri hp Samsung Galaxy Note-4ku. Karena di ATM sepi, aku
langsung bisa memasukinya tanpa menunggu antrian. Uang sebesar 20 juta sudah
aku tranfer ke nomor rekening kakakku yang sempat ayah kirimkan beberapa menit
yang lalu.
“Sudah ditransfer?” tanya ayah kala
aku tiba di rumah.
“Ya ayah.” Jawabku pendek. Sembari
mengembalikan ATM BRI kepunyaan ayah.
“Ya sudah, biar aku hubungi kakakmu
di Malang. Kasihan kakakmu, sudah semester tinggi di sana, jadi ayah belikan ia
sepeda motor. Lagian mumpung ada rejeki dari yang diatas.” Ungkapnya bijak.
“Nanti ayah juga belikan motor
untukkmu,” tambahnya menjanjikan.
***
Satu minggu setelahnya, kak Irfan menelponku.
Ia menyuruhku untuk mempersiapkan diri untuk mengikuti tes Seleksis Bersama
Masuk Perguruan Tinggi Negeri (SBMPTN) di kampus di mana ia mengambil konsentrasi
Pendidikan Fisika, Universitas Negeri Malang.
“ya kak, hari senin ini kan kak?”
timpalku balik tanya.
“ya dik, nanti kakak akan bawa kamu
jalan-jalan ke Selecta dan tempat lainnya pakek motor yang baru.” Uajrnya. Aku
sangat bahagia karena sebentar lagi aku menginjakkan kakiku di kota yang
terkenal dengan kebun Apelnya.
Sengaja kakak tidak pulang walaupun
kampusnya libur panjang. Alasannya, karena mengurusi pemberkasanku di sana.
Saudara tertuaku yang bernama lengkap Irfan Maulana itu sangat patuh pada orang
tua. Dari SD hingga SMA ia selalu
peringkat pertama di kelasnya. Bahkan, pada perpisahan akhir tahun kelas XII
beberapa tahun yang lalu, ia terpilih sebagai siswa lulusan terbaik di
sekolahnya. Beda denganku, yang selalu ada pada peringkat kedua setelah teman
perempuan yang sempat aku cintai, Winda.
***
“Aku sudah di terminal Arjosari kak,”
tuturku via sms dua hari sebelum tes SBMPTN diselenggarakan. Sengaja aku
berangkat lebih awal, agar aku bisa isitrahat dan jalan-jalan ke tempat wisata
seperti yang kak Irfan janjikan beberapa hari yang lalu.
“Ok
tunggu di situ dik Rosi.” Titah kak Irfan.
Karena dahaga menemaniku, tangan
kananku mengambil sebotol air mineral yang sempat aku letakkan di tasku. Selang
beberapa menit seteguk air melewati tengorokanku, kak Irfan menampakkan batang
hidungnya.
“Dik Rosi...,” panggil kak Irfan sembari
membuka helm INK warna biru.
Dengan relflek aku mengahampirinya
dan kuambil tangannya sekaligus menciumnya pertanda hormat seorang adik kepada sang
kakak. Di terminal, kami tidak terlalu lama ngobrol, motor dengan nomor polisi M
2911 AJ membawa kami ketempat kakak tinggal. Dalam matematika waktu yang tidak
sampai 20 menit, akhirnya kami tiba di
tempat kak Irfan tinggal. Rasanya badan terlalu capek sehingga harus
dibaringkan di atas kasur.
“Ini Dik susu dan rotinya, nanti
kita makan diluar.” Suguhnya usai aku dari kamar mandi.
“Soalnya kakak gak masak sendiri,”
tambahnya.
“Ya kak, aku pengen keluar sebentar
kak, pengen menikmati udara segar dulu di luar.” Tuturku.
***
Tepatnya hari selasa sore, aku dan
kak Irfan pulang ke Madura. Karena aku tidak biasa mengendarai motor pada malam
hari, tiba di Surabaya, kak Irfan mempersilahkanku untuk naik bus.
“Dari pada sakit, mending kamu naik
bus aja dik. Biar kakak yang naik motor. Nanti kita ketemu di rumah dan kakak
akan bilang ke ayah kalau kamu naik bus.”
“Hati-hati dik, ini uang untuk bayar
ongkos bus nanti. ” Ujar kak Irfan berpesan dengan memberikan uang yang bergambar
Sultan Mahmud Badaruddin II sebanyak 5 lembar.
Ada yang tidak enak dengan
pikiranku, entahlah apa sebenarnya yang membuat pikiranku resah kala itu. Tapi yang aku rasa adalah kekhawatiran akan
kak Irfan takut terjadi apa-apa dengannya di jalan. Aku berdoa saja semoga kak Irfan baik dan
ketemu di rumah dengan keadaan baik-baik saja. “Tuhan, berikan keselamatan
buat kak Irfan,” bicaraku berdoa dalam gumam.
“Mas, nanti turun dimana?”
pertanyaan kondektur membuat pikiranku buyar.
“Terminal Pamekasan pak.” Timpalku
sembari menyuguhkan uang yang diberikan kak Irfan sebanyak 3 lembar.
***
Kurang lebih 100 meter bus keluar
dari mulut jembatan Suramadu, tiba-tiba bus berhenti. Semua orang di dalam bus
mengira ada kecelakaan. Kondektur bus keluar dari pintu dan bertanya kepada
salah satu orang yang berada di pingir jalan.
“Ada orang kenak begal mas, motornya
berhasil dibawa kabur sama begalnya. Korbannya dipotong lehernya, kayaknya
masih muda. Tapi sekarang sudah dibawa ambulan ke rumah sakit.” Jawab lelaki
yang berpeci hitam di dekat jalan.
Mendengar itu, perasaanku semakin
tidak enak. Kecemasan akan kak Irfan kembali lagi menghampiri pikiranku. “Astaufirllah.....semoga
bukan kak Irfan korbannya.” Bicaraku dalam gumam.
Karena korban sudah dibawa ke rumah
sakit, kendaraan pun di persilahkan melanjutkan perjalannya oleh polisi. Bus AKAS
yang kutumpangi berlaju dengan cepat. Jam di ponselku sudah menunjukkan pukul
18:12 WIB. Aku coba hubungi kak Irfan, tapi nomornya tidak aktif. Lebih dari 20
kali aku miscall kak Irfan, tapi tetap saja tidak bisa.
***
“Ayah, aku sudah di terminal Ceguk
Pamekasan.” Tuturku pada ayah yang aku
kira ada di rumah via telpon.
“Tadi ayah sudah minta dik Rudi untuk
jemput kamu, ayah masih ada urusan di luar. Besok pagi ayah pasti nyampek
rumah.” Terang ayah dengan nafas yang kedengaran tergesa-gesa dan sepertinya
ada di atas kendaraan bermotor.
“Oh ya.” Timpalku dengan bibir
melingkar.
Tidak lama kemudian, paman Rudi menelpon
dan menanyakan keberadaanku. Dengan sepontan aku mengatakan kalau aku sudah
tiba di terminal. Di terminal berdampingan dengan kampus STAIN Pamekasan itu, pikiran akan kak Irfan
datang lagi. Perasaanku benar-benar tidak enak waktu itu.
***
Keesokan harinya tepat waktu Dzuhur akan
segera tiba, aku hendak pergi ke kamar mandi. Karena aku ingin mandi dan
menyegarkan tubuhku yang sempat lelah karena semalaman dalam perjalanan, aku
mengambil handuk di tempat jemuran. Sebelum kakiku berpijak di tempat jemuran,
ayahku datang dari arah selatan mengendarai motor yang ciri-ciri dan nomor
polisinya sama persis dengan kepunyaan kak Irfan.
“Kak Irfan mana yah?” tanyaku dengan
wajah datar.
“Loh, dia belom nyampek rumah nak.”
Jawab ayah dengan wajah tenang.
“Itu kan motor kak Irfan yah, kok
bisa ada disini kalau emang dia belom nyampek sini. Kalau itu bukan motor kak
Irfan, terus itu motor punya siapa?” tanyaku dengan nada heran.
“Ini punya teman ayah, tadi pas mau
pulang teman ayah pengen tukar motor untuk sementara, jadi ayah pakek ini untuk
sementara waktu.” Bicara ayah dengan nada santai tapi sudah matanya seperti
menyimpan sesuatu.
Ku hampiri dan ku perhatikan
baik-baik motor yang sama persis dengan kepunyaan kak Irfan, ternyata benar
bahwa motor itu adalah motor yang sempat menjadi saksiku saat menikmati keindahan tempat wisata di Malang dengan
kak Irfan.
“Ini benar motor kak Irfan yah.” Ucapku sembari kembali ke kamar
mengambil hp untuk memperlihatkan fotoku dan kak Irfan yang duduk santai di
dekat motor waktu berkungjung ke Selecta.
Mendengar penuturanku dan melihat foto-foto aku dan kak Irfan di
ekat motor yang ada di ponselku, ayah langsung menundukkan kepala dan menangis
dengan penuh histeris seakan tubuhnya terlihat penuh penyesalan.
“Ada apa yah? Kok ayah kelihatan
begitu sedih?” tanyaku dengan mimik wajah terharu.
“Kenapa harus anakku yang aku bunuh?
” teriak ayah dengan nada yang tinggi.
“Apa..? kenapa
ayah berkata seperti itu? Apa yang terjadi yah?”
Dengan nada yang lemah, ayah
bercerita peristiwa yang terjadi semalam. Ternyata ayah sendiri yang membunuh
kak Irfan, ia dan temannya adalah begal
yang orang maksud di tempat bus sempat berhenti semalam. Dia mengaku tidak tahu
bahwa yang dibegal adalah kak Irfan, anaknya sendiri.
“Jadi,
selama ini ayah dapat uang dari hasil membegal? Pantesan saja malam hari ayah
tidak ada di rumah. Dasar ayah tidak tahu malu, mulai malam ini aku tidak akan
mengakui kamu sebagai ayah kandungku. Biadab kau! Pergi kau dari sini, atau aku
bunuh kau? Jadi selama ini kamu penuhi kebutuahn kami dengan uang hasil
pekerjaan tak kenal berprikemanusiaan ini? Dasar tidak waras!” bicaraku dengan
nada kasar seakan tanpa kontrol.
Beberapa
detik kemudian, ayah menyalakan mesin motor itu. Mungkin dari saking kecewanya
pada dirinya, ayah menabarak pagar rumah dengan sengaja. Karena motor melaju
dengan kecepatan 100 km/jam, sampai-sampai motor itu hancur dan kepala ayah berada
di antara jeruji pagar, sehingga menyebabkan nyawanya tak melekat lagi pada
tubuhnya.
Pamekasan, 18 Oktober. 2015
0 Komentar