Permataku
Gunung kekhawatiranku
akan dirimu semakin meninggi malam ini
Jiwa ini seakan
membelaimu dan mendekapmu
Hangatnya tubuh ini
seakan ditambah hangatnya tubuhmu
Permataku,
Andai aku bisa meminjam
sayap-sayap malaikat
Maka akan kuberanikan
diri tuk memohon agar sayap itu bisa aku pakai
Guna mendekapmu di sana
Permataku,
Huruf huruf mulai
cemburu padaku saat aku menulis puisi ini
Hingga jari-jariku
seakan ditarik tuk menyampaikan kerinduan yang belum jua terkata dalam realita
Permataku,
Aku merindumu, sayang
Hasrat tuk menjemputmu
seakan membuat kaki ini memaksaku melangkah
Permataku,
Engkau adalah wanita
yang membuat aku bahagia
Engkau adalah warisan
hawa yang diharapakan memeluk anak adam sepertiku ini
Kuakhiri
puisi dengan dua kata
Aku mencintamu
Pamekasan, 2015
Sahabat
Duhai sahabat,
Kaulah insan pemecah kejenuhan
Kau datang kala hatiku gersang dan
menyiraminya dengan air kasih sayang
Kedatanganmu tanpa undangan
Sungguh suci pengorbananmu
Duhai sahabat,
Bila kelak aku kehilanganmu, Aku tahu
itu adalah kehendak sang Pemberi
Kehidupan
Tulus cintamu tetap bersamaku hingga
akhir waktu
Takkan terpupuskan ketulusanmu walau
bumi akan lapuk oleh waktu
Bila keturunan Adam tak ada yang
mengenangmu
Biarkan aku dan dunia mencatatnya diatas
hamparan bumi ini dengan tinta keabadian
Karena melupakanmu merupakan hal yang
tragis
Duhai sahabat,
Saat aku tersungkur jatuh, Kau menjadi
tongkat yang bisa kupegang hingga tubuhku kembali tegak
Bersamamu aku menjalani roda kehidupan
Bila penyair krisis kata tuk berpuisi
arti ketulusanmu
Biarkan puisi ini mengenangmu
Bila seniman krisis kanvas tuk
melukiskan pengorbananmu
Kabarkan padanya! aku rela, bila dadaku
menggantikannya
Bila fisikawan mengatakan kita terbatas
oleh jarak
Jangan khawatir sahabat!
Karena kimiwaan berkata, kita masih
terikat oleh kepolaran
Terimakasih sahabat
Semoga kedamaian menjadi bingkai
kehidupanmu.
Pamekasan, 22 Mei 2015
Senjaku
Tak dapat aku berkata kecuali bahasa hati
Tak mampu aku mengeluarkan kata hati kecuali kepadamu
Awal Maret adalah kebahagiaanku denganmu
Hingga kini aku berharap kita ada di dalamnya
Senjaku,
Dimana kau kini?
Aku merindukanmu dalam dekapku
Hasrat mendengar suaramu adalah impian yang kian melayang
Putaran waktuku ingin denganmu semata
Senjaku,
Aku tak sanggup bila kau menghilang dari sejarahku
Senjaku,
Aku masih membutuhkanmu dalam menjalani roda percintaan ini
Dimana kau kini?
Mungkinkah kau telah menghapus sejarah yang kita tulis di waktu
senja dan kita ukir di waktu fajar?
Senjaku,
Aku mencintaimu
Aku menyayangimu
Senjaku,
Aku harap tanda titik itu menjadi tanda
dalam sejarah kita
Aku berharap kau kembali untukku
Pamekasan,2015
Kopi Hitam
Kutemukan kenikmatan dalam kopi hitamku
Cangkir putih yang menjadi wadahmu
membuat bola mataku tertarik padamu
Butiran hitam adalah bentukmu
Butiran gula yang tak terlihat membuatmu
manis dirasa
Air membuat nikmat kurasa
Sepasang bibirku tak ingin kehilanganmu
Lidahku tak ingin lepas darimu
Kopi hitamku
Kau teman
setiaku berpuisi
Aku tak ingin kau musnah dari duniaku
Pamekasan, 04 November. 15
Pantai Lombang Yang Bersalah
Pantai lombang,
Butiran pasir yang membentang
Membuat bola mata tak bisa meloncat
Cemara
udang yang tersenyum pada gelombang
Membuat hati ini terpesona
Namun, semua itu tak ada artinya
Kau telah membuatku terluka
Pantai lombang,
Mengapa kau biarkan senja pergi?
Mengapa kau biarkan cemara udangmu
membisu?
Tanpa kau menitahnya tuk mengejar senja
Bukankah kau yang telah mempertemukanku
dengan senja?
Kini, senja telah sirna lantaran malam
menyeretnya
Senja, di mana kau kini?
Mengapa kau duakan aku dengan malam yang
kelam
Kau bercumbu tanpa kau sadari aku
menyaksikannya
Senja, senja, senja....
Kau torehkan lara dalam dada
Hingga aku terpenjara dalam kerinduan
12 Januari
2016.
Ibu, Biarkan Aku Bersaksi
Ibu,
Aku bersaksi, air matamu lebih berarti
Dari langit yang menangis membanjiri
bumi Tuhan yang luas ini
Aku bersaksi, pengorbananmu lebih tulus
Dari lilin yang terbakar menerangi
gelapnya malam
Aku bersaksi, sakitmu lahirkan aku lebih
perih
Dari leher yang terhunus Dzulfikar milik Ali
Ibu, ibu, kau insan berhias kasih sayang
Mengasihi insan yang hendak datang di
hamparan bumi Tuhan
Ibu, biarkan aku bersaksi
Kaulah pahlawan sejati
Kaulah guru sejati
Kaulah pemilik cinta sejati
Ibu, andai di liang lahat Mungkar Nakir bertanya siapa pahlawan di
dunia
Namamu yang kan kusebut pertama kali
Ibu, andai Tuhan bertanya siapa yang
mengenalkan-Nya padaku
Kan kujawab, kaulah orangnya
Ibu, aku bersaksi
Bagiku, kaulah malaikat Tuhan tanpa sayap
Ibu, sampaikan terimaksihku pada Tuhan
Aku damai bersamamu ibu
Tuhan, terimalah kesaksianku atas ibu
Pamekasan 20 Januari 2016
Sahabat,
percayalah!
Aku bukanlah penyair yang lihai
Tapi, percayalah sahabat!
Biarkan sajak-sajakku yang merangkai ketulusanmu
Aku bukanlah kimiawan yang paham
kepolaran
Tapi, izinkanlah aku mengikat
pengorbananmu dengan tali kenangan
Sahabat,
Aku bukanlah penulis yang tersohor
Tapi, izinkan puisi ini mencatatmu
dengan tinta keadabadian
Aku bukanlah tiang yang kokoh
Tapi, izinkan aku menjadi tongkatmu
tatkala kau terjatuh hinga kau bangkit
Sahabat, percayalah!
Aku selalu ada untukmu
Di setiap waktu
Di setiap detak dadamu
Di setiap langkahmu
Di setiap napasmu
Sahabat, percayalah!
Bumi telah menjadi saksi atas kebersamaan
kita
Dan menjadi kanvas tuk melukiskan
semuanya
Hingga Tuhan mengakhirinya.
Pamekasan, 20 Januari 2016
Tuhan, Biarkan Aku Masuk
Nerakamu
Aku tidak amanah di bumi ini
Maka, biarkan hamba memasuki nerakamu saja
Bukan aku tak mau pada Firdaus dan
Adn-mu
Aku hanylah khalifahmu yang tak pantas mendengar harum semerbaknya
Bukan aku tak mau meminum arak yang kau
alirkan melebihi sungai terpanjang di duniamu
Tapi, aku telah menikmati sebelum
waktunya
Bukan aku tak mau pada bidaddarimu yang
jelita di surgamu
Tapi,
mata ini telah menikmatinya di setiap pergantian
malam
Tuhan, biarkan aku menikmati nerakamu
Aku telah bosan pada surga duniamu
Tak ada harapan tuk mencium Firdausmu,
bila kau tak rela
Tuhan, biarkan aku memasuki nerakamu
Biarkanku menikmati pembalasanmu
Pamekasan, 20 Januari 2016.
Sederet Kata Untukmu
Kebersaman kita telah dihentikan waktu
Canda tawa kini menjadi catatan di
lembar kenangan
Sahabat,
Ingatkah saat kita tertawa lepas
bersama?
Keceriaanmu membekas di ingatanku
Kala langit menangis, kita bersorak
menikmatinya
Bersama-sama mengejar benda bulat
Aku rindu masa itu, kuharap kau juga
begitu
Namun, kini kita telah dibatasi jarak
Waktu telah menyeret kebersamaan kita
Sahabat,
Kini, kita tak ubahnya kertas yang
berserakan di lain tempat
Yang dituliskan dengan kalimat berbeda
namun tema yang sama
Tahukah kau temanya? Kesukseasan adalah
temanya
Tenanglah sahabat, walau kita nanti
terletak di halaman berbeda, namun kita tetap ada dalam satu buku
Kita tetap satu, mempunyai impian mulia
Hingga, kita tercatat di sebuah buku Ensiklopedia Sahabat Sukses Di Dunia
Yakinlah, waktu akan memihak pada kita
Untuk mempertemukan kita
Sahabat, aku merindukan kebersamaan
denganmu
Pulau Garam, 15 Februari 2016
Maghrib
Kutemukan ketenangan di tubuhmu
Langit menjadi kelabu
Burung-burung melintasi pandangan
Kembali dari pencarian rizki-Nya
Allahu akbar allahu akbar
Allahu akbar allahu akbar
Kini, aku hanya bisa berharap
Kau tetap setia menemainku
Bersujud, bertasbih, memohon, mengiba pada
Tuhan
“Tuhan, aku sudah di atas alas yang
suci, memenuhi panggilanmu”
Berdiri tegak, menghadap karya Ibrohim
dan Ismail nabimu di tanah suci
Maghrib
Aku tenang bersamamu
Allahu akbar allahu akabar
Samiallahu liman hamidah
Robbighfirli warhamni wajburni warfa’ni warzukni wahdini
waafini wa’fuanni
Assalamualaikum warohmatullah.
Tuhan, berikan ketenangan
pada khalifahmu ini
Allahu akbar.
Gubuk
Pergerakan,
15 Februari 2016
Malam Tanpa
Isya’
Masa Maghrib tiada
Kini, gilran Isya’ menyambutku
Adzan sudah berkumandang dengan merdu
Tapi hatiku sama sekali tak tersentuh
olehnya
Kuabaikan panggilan-Nya
Allahu akbar allahu akbar
“waktu Isya’ masih panjang”
Bantah hatiku
Kuabaikan seruan tuk menghadap-Nya
Kusibukkan dengan layar android
Malam itu adalah malamku tanpa Isya’
Isya’
Maafkan aku telah mengabaikanmu
Aku menyesal
Aku menunggumu
Isya’
Aku ingin bercumbu dengan Tuhan bersamamu
Sungguh kumenyesal telah mengabaikanmu
Hingga aku terlelap di atas pulau kapuk
Aku terlalu sombong
Terlau gengsi
Telah menolak ajakanmu
Isya’
Aku berjanji
Akan setia padamu
Tanpa mengabaikanmu lagi
Aku ingin bersujud pada-Nya bersamamu
Gubuk Pers Activita, 16 Februari 2016.
Berharap
Dalam diamku, aku berharap dapat menyatu
walau dalam do'a
Dalam sujudku, aku berharap Maha Cinta
memberikan stample restunya dalam proposal yang tengah kuajukan
Dalam tidurku, aku berharap perjumpaan di
Pulau kapuk
Dalam hatiku, aku berbicara dengan tema
yang tak perlu orang tahu
Dalam tulisanku, aku mencatat harapanku
Dalam puisiku, aku lantunkan sajak buatmu
Dalam pikiranku, aku pusatkan padamu walau
sejenak
Dalam harapku, pencipta dapat mengabulkan
keinginan dengan ridho-Nya
Harapku, kau tak perlu khawatir
Aku tetap tenang berlayar di samudra
harapan yang tak bertepi itu
Aku titipkan saja semua harapan itu pada-Nya.
Yakinlah, semua akan baik bila sudah
mendapat ridho-Nya.
Dalam bungkamku, aku menanti kesohihan
proposalku
Harapku, kita mengiba tuk memohon yang
terbaik dengan ridho-Nya.
Gubuk Pers, 16 Februari 2016.
Kepada Siapa?
Hari pertama
Kutitipkan rindu pada kertas, kertas
menolak
"Kenapa kau menolak, kertas?"
Kutitipkan rindu pada paragraf, paragraf
menolak
"Kenapa kau menolak, paragraf?"
Melangkah tanpah tahu arah
Mencari sesuatu yang bisa menyampaikan rindu
Kucoba tuliskan rindu pada daun, daun gugur mengering hingga sajak-sajakku hancur
Kucoba bernyanyi tentang rindu, tak ada
yang mengerti dengan liriknya
Kucoba titipkan rindu pada awan, awan
segera meleleh
Lantas? Kepada siapa harus kutitip rindu ini?
Kepada siapa?
Burung? Tak mungkin, karena tak tahu rute menuju surgamu
Manusia? Tak mungkin, terlalu munafik
Langit? Tak mungkin, terlalu jauh
Lautan? Tak mungkin, surgamu jauh dari
pesisir
Hari kedua
"Aku tak mampu" jawab kertas
berbisik
" Bahasa kerinduanmu terlalu indah,
aku merasa tak pantas" tutur paragraf.
Hari ketiga
"Titipkan saja rindumu pada Tuhan dengan
do'amu" titah hati.
Hari keempat
Harapku, rinduku sampai padamu.
Hari kelima
Kau pun tersenyum dengan senyuman indah
Hari keenam
Aku tahu kau jua merinduku.
Hari ketujuh
Benarkah kau jua merinduku?
Hari kedelapan
kau diam tanda sepakat
#Buatmu yang kurindu
perangkai kata.#
Gubuk Pers, 19 Februari 2016
Kuliah
Waktu mulai tak bersahabt
Kertas tanggung jawab memanggil-manggil
Otak berputar tak menentu
Beban seakan tak mampu dipikul
Literatur adalah teman yang
setia hingga tidur
Setia menemani, setia menunggu hingga
mata tak mampu menatap pesonanya
Gelar yang disandang perlu dipertanggungjawabkan
Kaum intelek bercengkrama dengan aman
Berbeda pandang adalan keniscayaan
Gubuk-gubuk kecil adalah rumah ke dua
Keluarga ke dua mulai mesra
Membangun rasa kebersamaan
Menapaki jembatan masa depan
Yang tak mampu diterawang
Waktu tak bisa biarkan
Lisan mencipta perubahan
Tangan meraba jendela baru
Kaki melangkah menyesuaikan kompas
kehidupan
Dunia ada dalam genggaman
Masa depan bangsa tinggal ditentukan
Masa depan ada di atas kertas
Tinggal menggoyangkan pena
Hingga harapan tak lagi di dalam angan
Kenyataan lebih berarti dari pembicaraan
Pamekasan, 17 Maret 2016.
Oh
Indonesiaku
Tiga setengah abad kau menderita
Di bulan suci pun kau merdeka
Pahlwan tanpa jasa rela
berkorban nyawa
Tapi kini, nyawa saudara seenaknya disandra
Pemimpin negara lihai berbicara
Tapi tak pernah terbukti dalam nyata
Oh.. Indonesiaku
Sabarlah betaku
La
tahzan!
Dunia memang dicipta dengan tuk manusia
Tak semua manusia bisa
membaca realita
Matanya yang terbelalak bila menangkap
yang ia suka
Tanpa menoleh pada saudara derita
Oh Indonesiaku
panggilllah Gajah Mada!
panggila Bung Hatta!
agar kau tetap merdeka
Pamekasan, 17 maret 2016.
Tarian
Padi Yang Menguning
Hujan menghadirkan senyum baru di
hamparan yang Tuhan cipta
Harum semerbak tercipta
Khalifah di tanah gersang sumringah
Menyambut tangisan langit yang kian lama
dirindukan
Moment yang dinanti telah datang
Padi mulai tumbuh
Kian waktu padi pun menguning
Butiran yang serat akan karbohidtrat mulai mengembang
Angin siang membuat padi bergoyang riang
Menari, seperti hatiku yang tak lagi sendiri
Tak lagi dibalut sepi
Bunga cinta mulai mekar di pinggir hati
ini
Jangan
pergi
Tetaplah di sini
Temani diri ini
Jangan biarkan diri ini tengelam di
lautan sepi lagi
Kau hadirkan senyum terpatri
Di relung hati yang selama ini sepi
Mari menari bersama di atas hamparan
padi yang menguning ini
Hati,
Tetaplah di sini
Jangan biarakan diri ini sendiri lagi
Agar tak lagi mencari cinta lagi
Cintamu cukup berharga bagi diri ini
Hingga dunia tak lagi bermentari
Hingga tuhan mengambil diri ini
Pamekasan, 17 Maret 2016.
Sendiri
Di Pelaminan
Bergetar pena ini tanpamu
Orang yang selama ini memperjuangkan
hidupku
Memandikanku dengan air matanya
Membesarkanku dengan sesuap nasi yang
dikunyah
Allahu
akbar
Allah,
Semoga surga menunggumu
Ridwan merindukanmu
Duhai orang terdekatku
Kuingin kau
hadir di hari kebahagiaanku ini
Yang tak kan terulang kembali
Sepanjang Tuhan menciptakan alam ini
Kutulis semua ini
Menjadi kalimat yang menangis
Mengalirkan kebahagiaan
Allah,
Allah,
Ibu, aku ingin kau menyaksikan ini
Barokallah,
Bangkes, 27 Maret 2016.
Suaraku
Pada Alam
Terlahir dengan air mata derita
Besar dengan minum air mata derita
Lengah,
Berjalan sendiri
Kini, bahagia menggelora di rongg dada
Dua Malaikat tanpa sayap
Ingiku, kau menyaksikan senyum yang
menyejukkan ini
Kau telah kubawa bersama jiwa ini
Perjuangan serta pengorbananmu
disaksikan air mata
Yang tak mampu mengalir
Ayah, ibu, saudara kucinta
Air mata ini, tak pantas lagi disebut
air mata derita
Air mata ini seperti kata pujangga
Air mata bahagia
Allhahu
akbar
Barokallah,
Kadur, 27 Maret 2016.
Ibu,
Kau Adalah....
Kau adalah telaga kasih sayang
Kau adalah dermaga ketenangan
Kau pemilik air kasing sayang
Restu dan kutuk di lisanmu
Ibu, kau adalah....
Kau malaikat yang diutus Tuhan
Kau pahlawan tak mau dikenang
Kau guru tak gila dihormat
Kau adalah pemberi tanpa pamarih
Kau adalah mentari
Kau adalah rembulan
Kau tersabar
di antara penyabar
Kau terikhlas
di
antara yang ikhlas
Pamekasan, 14 April 2016
Ibu,
Aku Bukanlah....
Aku bukanlah pujangga yang pintar merangkai kata
Tapi kau tak perlu khawatir, namamu selalu
terselip dalam do’aku
Ibu, aku bukanlah hartawan yang dapat
memberimu makan tiap hari.
Tapi kau tak perlu khawatir, takkan ada kata malas
dalam baktiku padamu
Ibu, aku bukanlah rupawan yang membuatmu bangga
Tapi kau tak perlu khawatir, takkan
kucoret nama baikkmu di kertas sosial
Ibu, aku bukanlah dai ulung
Tapi kau tak perlu khawatir, nasihat baikmu kan
kusebarkan semampuku
Ibu, aku bukannlah kiai yang disegani
santrinya
Tapi kau tak perlu khawatir, kan
kusegani teman-temanmu
Ibu, aku bukanlah guru yang dapat
memberi contoh baik pada murid-muridnya
Tapi kau tak perlu khawair, kan kuajarkan apa
yang telah kau ajarkan padaku
Ibu, aku bukanlah nabi yang diutus Tuhan
menyebarkan keesaan-Nya
Tapi kau kau tak perlu khawatir, kan kusebarkan
ayat yang pernah kau ajarkan padaku
Ibu, aku bukanlah ahli ibadah tulen
Tapi kau tak perlu khawatir, tak kan bosan
kulantunkan do’a
untukmu
Agar Tuhan menghapus dosa-dosamu
Menerima kebaikan-kebaikanmu
Pamkasan, 17 April 2016
0 Komentar