![]() |
| Dok: Gafur Abdullah |
Apa kabar Pembaca Blog Gafur Abdullah (GA) ? Sudah makan sate daging kurban? Atau gak kebagian? Bahaha, kalau gak kebagian, yo sabar tretannku. Beli tahu lalu disate dan dikasih bumbu ala sate daging kurban, kan sama saja rasanya. Hehe. Atau mau sate daging kurban beneran? Hubungi Gafur via sosmed gak papa. Caranya? Bisa tretan tengok di info kontak di blog ini ya. Tak kasih dengan porsi yang banyak.
Hmmm. Kayaknya sekarang di Madura musim tembakau. Apa kabar tanaman tembakaunya, baik-baik saja, kan? Gafur doakan semoga lancar dan laku dengan harga selangit. Amin..
Ngomongin tembakau di Madura. Beberapa bulan lalu sempat mendengar petani psimis. Ads tidak mau menamam, ads pula yang mau menanam tapi sedikit. Alasannya satu, Corona. Khawatir tidak dibeli oleh pabrik rokok. Duh, kasihan juga ya,
Tapi trentan, nyatanya, meski Pandemi Covid-19 belum sirna, mayoritas petani di Madura tetap menggarap lahannya tahu ini. Sejak bulan Juni kemarin, petani -khususnya di Desa Ragang dan sekitarnya- di Madura rerata menanam tembakau.
Bagi masyarakat Madura, tembakau adalah tanaman yang menjanjikan secara ekonomi. Itupun jika musim kemarau normal. Sebaliknya, jika kemarau sedang tak bersahabat, bertani tembakau membuat petani murung sebab kerugian melanda. Karena tanamam yang membutuhkan waktu kurang lebih empat bulan mulai dari menanman sampai panen ini juga membutuhkan modal banyak. Modal waktu, tenaga, dan uang yang tak sedikit. Bahkan air untuk menyiram tembakau pun sebagian harus beli. Seperti di Desa Ragang, Sana Laok, Waru, Bajur, Sana Tengah, Bujur (Barat/Tengah/Timur), Sumber Waru, Tampojung (Pregi/Tenggina/Gua), Dempo (Barat/Timur) desa tetangga lainnya yang secara geografis masuk Kabupaten Pamekasan bagian utara Pamekasan. Sedang di Kabupaten Sumenep bagian utara juga mengalami hal yang sama. Seperti desa Montorna, Prancak, dan desa tetangga lainnya yang masuk. Maklum, di sejumlah desa tersebut hampir tiap musim kemarau mengalami kekeringan. Meski ada bantuan air dari instansi swasta, ormas, relawan bahkan pemerintah hanya cukup untuk minum dan kebutuhan MCK. Beberapa oknum penyalur bantuan air pun kadang masih terjebak - masuk sendiri- dalam jurang nepotisme.
Di sejumlah desa yang penulis sebutkan di atas, metode menyiram tembakau ada dua. Menyiram dengan cara manual menggunakan timba yang dipikul dan Noccer, menyiram menggunakan bantuan pompa air. Dalam tulisan ini, penulis akan mengulas metode Noccer ini.
Apa Sih, Noccer Itu ?
Tidak jelas sejak kapan motode, asal muasal kata noccer ini muncul dan siapa yang memulainya. Tapi menyiram dengan metode Noccer ini bisa memilih diantara dua alat. Kalau tidak pompa air berbahan bakar bensin, bisa menggunakan pompa air yang bertenaga listrik. Petani harus membawa pompanya ke ladang setiap hendak digunakan. Pompa milik sebagian petani ada juga yang ditinggal di bagian pojok ladang. Tapi ada yang diboyong ketika selesai dengan alasan keamanan.
Pipa yang digunakan pun dua. Pipa di bagian pangkal sumber air yang di pasang dekat sumber air menggunakan pipa karet lembek berdiameter sekira 8-10 cm. Sedang untuk dibagian tengah sampai ujung menggunakan pipa karet lembek berdiameter sekira 4-6 cm. Pada bagian ujung yang menggunakan bantuan seng bisa juga alumium berbentuk serupa vakum cleaner dengan banyak lubang. Orang di kampungku menyebutnya cocor. Tapi ada yang tidak menggunakan cocor ini. Untuk cocor biasanya digunakan untuk menyiram tembakau yang masih belia atau usia tanamnya masih hitungan hari. Sedang untuk yang sudah agak besar ditoccer tanpa cocor.
Penggunaan pompa bertenaga listrik ini unik. Karena petani kudu menyambung listrik dari rumah sendiri. Kadang menyambung ke rumah warga yang dekat dengan ladang petani tersebut. Tak heran bila di daerah persawahan di mana tembakau ditanam, banyak kabel menggelangtung di antara tiang penyangga satu ke tiang penyangga lainnya. Tiang penyangga ini terbuat dari bambu. Biaya listriknya pun cukup membayar 100-200 ribu dalam satu musim tembakau. Waktu pembayarannya pun bisa dibayar setelah panen. Tapi nominal pembayaran ada yang kurang bahkan lebih dari itu, tergantung kesepakatan. Itu untuk di daerahku. Entah di daerah lain seperti apa cara akadnya.
Ada nggak, kelebihan dan kekurangan Metode Noccer ini?
Di mana ada kelebihan, tentu ada kekurangan. Pun dengan metode noccer. Kamu aja di mata pasangannya memiliki nilai lebih dan kurang. Hehe. Maap, maap.
Oh iya, ada yang mengatakan metode noccer ini efektif. Karena air bisa langsung diarahkan ke bagian akar pohon tembakau. Tapi ada juga yang berkata metode ini tidak efisien. Sebab butuh waktu lebih banyak dibandingkan menyiram secara manual.
Noccer bisa lebih hemat tenaga, air yang disiramkan pun lebih banyak. Sehingga tembakau akan relatif lebih besar dari pada yang hanya disiram secara manual. Waktu noccer tidak dilakukan setiap hari. Ada yang sekali dalam tiga hari. Ada pula yang sekali dalam dua hari.
Tidak semua petani menggunakan metode noccer ini. Alasannya beragam. Ada karena alat terbatas, terbatas pembendaharaan air di sumur atau di penampungan, waktu tidak mencukupi dan sebagainya. Tidak semua petani memiliki pompa dan tidak semua petani memiliki cukup air. Di daerahku, petani yang tidak memiliki pompa masih bisa pinjam punya tetangga atau sanak famili secara cuma-cuma. Ada juga yang menyewa pompa dengan akad listrik atau bahan bakar beli sendiri. Belum aku temukan petani di daerahku yang menyewa pompa dengan akad membayar uang. Karena budaya tolong menolong di daerahku masih kental.
Gimana Caranya Noccer ?
Untuk menyiram tembakau dengan metode noccer ini, idealnya dibutuhkan dua orang. Dua orang itu memiliki tempat dan fungsi masing-masing. Sama kayak kamu yang punya tempat dan fungsi di hati si dia. Hehe.
Orang pertama ada di bagian ujung depan pipa untuk memegang cocor untuk menyiram tembakau. Orang yang memiliki tugas ini harus berjalan mengikuti sela-sela tanaman tembakau. Bisa dikata, orang ini mengikuti celah bedengan. Orang-orang di kampungku menyebut "Ajhâlân è bellurân (Berjalan di tengah tanamam tembakau).
Sedang orang kedua bertempat di ujung bedengan. Tapi kadang ada yang memilih berdiri di bagian atas jalan stapak pembatas ladang atau Tabun. Tugas dari orang kedua ini yaitu mengulur, menggulung dan menarik pipa mengikuti gerakan dari orang pertama. Jika orang yang ada di ujung pipa atau pegang cocor berjalan maju, maka orang kedua harus mengulurkan pipa. Pun sebaliknya, jika orang pertama berbalik atau bisa juga berjalan mundur, maka orang kedua ini bertugas untuk menarik dan menggulung pipa.
Selain harus berdua, noccer juga bisa dilakukan sendirian. Tapi untuk melakukannya harus sabar, siap ribet, dan waktunya tentu lebih lama. Karena pipa harus digulung dan diletakkan di pundaknya. Pokonya ribet. Lihat saja ribet, apalagi melakukannya. Sendirian, Lho. Kayak jomblo. Apa-apa harus sendiri. Hehe.
Bisa dibilang, noccer ini menjadi solusi kekinian pada aktivitas menyiram tembakau. Itu dari sisi tenaga. Tapi dari sisi pemakaian air dan pengeluaran, bisa dibilang pemborosan. Karena air bisa juga terbuang. Semisal, pipa sedang mengalami kebocoran, jebol di bagian pangkal. Dari sisi pengeluaran juga boros. Seperti biaya untuk beli pompa ataupun membeli bahan bakar juga listrik.
Ini hanya secuil catatan penulis selama menanam dan merawat tembakau dengan menggunakan metode noccer di kampung. Kalau di desa kalian bagaimana?





1 Komentar
Mantap
BalasHapus